Home Republika Online

Sabtu, 29 Mei 2010 pukul 10:46:00

Manuskrip Islam


Oman Fathurahman(Ketua Umum Masyarakat Pernaskahan Nusantara)Adakah hubungan manuskrip nusantara, khususnya yang bertemakan keislaman dengan diskursus tentang nasionalisme kita pada abad ke-21 ini? Soal ini menjadi salah satu topik diskusi dalam "Gus Dur Memorial Lecture ke-3", 20 Mei lalu, di The Wahid Institute (WI) bersama sejarawan senior Taufik Abdullah dan Direktur Eksekutif WI Ahmad Suaedy.Manuskrip adalah peninggalan tertulis masa lalu yang tidak dimiliki semua negara. Beruntung Indonesia mewarisi khazanah manuskrip yang termasuk dalam salah satu terkaya di dunia dengan ragam bahasa dan aksara lokal yang menjadi identitas etnis masyarakat pemiliknya.Dalam hal manuskrip, seiring dengan kemajuan teknologi digital, sejumlah lembaga, universitas, dan bahkan negara, kini banyak yang menjadikan kekayaan manuskrip kunonya sebagai sarana pencitraan kredit dan identitas. Perpustakaan Universitas Tokyo di Jepang, Harvard, Princeton, dan Michigan di Amerika, Uni Leipzig di Jerman, serta British Library di London, adalah beberapa contoh kampus atau lembaga yang mendapat keuntungan kredit dan identitas akademik berkat koleksi manuskripnya yang dirawat dengan baik serta membuka akses publik melalui perpustakaan digital online. Padahal, sebagian besar koleksi mereka justru berasal dari Timur, termasuk Indonesia.Islam NusantaraKekayaan manuskrip nusantara pernah dilukiskan oleh Taufik Abdullah (2001: 14) sebagai buah dari 'kegelisahan intelektual' para cerdik cendekia masa lalu. Sebagian dari para penulisnya adalah dari kalangan ahli...

Berita koran ini telah melewati batas tayang. Untuk mengakses, silakan berlangganan.
Bagi Anda yg sudah berlangganan, silakan login disini.
Bagi Anda yg belum mendaftar berlangganan, silakan registrasi disini.


Index Koran

Berita sebelumnya :

© 2009 Republika Online. Republika Company. All Rights Reserved.
Terms of service | Privacy guidelines | Advertise with us | About Us | Contact