Senin, 18 Januari 2010 pukul 09:55:00
Gus Dur dan Muhammadiyah
Oleh Prof Dr Imam Suprayogo(Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim, Malang)Membaca sepintas judul dalam tulisan ini mungkin terkesan aneh. Dalam hal ini, Gus Dur atau KH Abdurrahman Wahid dijajarkan dengan Muhammadiyah. Bukankah semestinya Gus Dur lebih tepat diperbincangkan dengan NU atau Nahdlatul Ulama? Bukankah Gus Dur dan Muhammadiyah adalah dua identitas yang jelas berbeda. Perbincangan tentang Gus Dur dan NU terasa sudah biasa. Gus Dur tidak akan bisa dipisahkan dari NU. Gus Dur adalah cucu pendiri NU, semua orang sudah mafhum. Gus Dur pernah menjadi ketua PB NU sejak tahun 1984, terpilih dalam Muktamar di Situbondo, dan baru setelahnya digantikan oleh KH Hasyim Muzadi hingga sekarang. Selain itu, Gus Dur adalah pendiri PKB, partai politik kaum Nahdliyin. Itu semua menjadikan antara NU dan Gus Dur tidak bisa dipisahkan. Saya selama ini melihat keduanya--entah disetujui atau tidak--memiliki persamaan, yaitu sama-sama dipandang sebagai gerakan pembaruan di Indonesia. Gus Dur, dengan berbagai pemikiran dan gerakan sosialnya, sekalipun tidak mengklaim sebagai pembaru, dianggap telah melakukan peran-peran perubahan yang sangat mendasar oleh berbagai kalangan. Demikian pula Muhammadiyah, secara eksplisit, yang menyebut dirinya sebagai organisasi pembaru. Selanjutnya, kalau keduanya disebut sebagai pembaru atau katakanlah sebagai kekuatan pengubah, lalu adakah perbedaan di antara keduanya? Jika hal itu memang berbeda, ada di wilayah mana perbedaan itu? Pertanyaan ini rasanya penting untuk dicarikan jawabannya. Sementara ini, saya melihat bahwa...
Berita koran ini telah melewati batas tayang. Untuk mengakses, silakan berlangganan.
Bagi Anda yg sudah berlangganan, silakan login disini.
Bagi Anda yg belum mendaftar berlangganan, silakan registrasi disini.
Index Koran