Monday, 12 Jumadil Akhir 1442 / 25 January 2021

Monday, 12 Jumadil Akhir 1442 / 25 January 2021

Marshmallow yang Menggoda

Ahad 14 Dec 2008 23:56 WIB

Red:

Umumnya anak-anak akan tergoda dengan penampilannya. Dengan warna-warna pastel yang indah, bentuk yang menarik dan lucu produk ini hadir di rak-rak supermarket dan mudah dijangkau.

Coba amati sejenak dengan membaca informasi yang ada pada kemasannya. Sudahkah terbaca informasi yang ada pada kemasan produk tersebut? Atau Anda tidak bisa membaca informasi yang ada karena tidak mengenal huruf-huruf yang disajikan pada kemasan produk tersebut? Barangkali yang hanya bisa terbaca dari sekian banyaknya informasi yang disajikan oleh produsen adalah tulisan product of Japan atau made in Japan.

Marshmallow adalah suatu jenis confectionary yang bahan-bahannya terdiri dari gula, putih telur, dan gelatin. Juga, adanya udara, karenanya produk ini digolongkan sebagai aerated confectionary. Asal penamaan produk ini berasal dari suatu tanaman marsh mallow (Althaea officinalis). Tanaman ini adalah salah satu genus dari mallow.

Resep tradisional awal produk ini adalah menggunakan esktrak akar tanaman herbal tersebut. Namun saat ini marshmallow tidak lagi dibuat dari tanaman marsh mallow, melainkan dengan menggunakan gelatin. Dan, gelatin inilah yang perlu diwaspadai sebagai pintu masuk keharaman pada makanan itu. Namun juga, tidak berarti jika gelatinnya halal, otomatis produk tersebut menjadi halal. Masalah perasa (flavor) yang digunakan, juga kemungkinan menggunakan putih telur dalam bentuk powder yang juga harus dicermati.

Gelatin termasuk bahan yang cukup penting fungsinya dalam pembuatan marshmallow, sehingga penelusuran sumber gelatin menjadi prioritas utama dalam menelaah kehalalannya. Dalam proses pembuatannya, gelatin digunakan untuk menghasilkan dan mendukung busa yang terbentuk serta membentuk suatu film yang menangkap gelembung-gelembung udara yang terbentuk.

Banyak jenis marshmallow, diantaranya adalah extruded marshmallow, deposited marshmallow, cut marshmallow, dan grained marshmallow. Produk-produk tersebut berbeda dalam hal tekstur dan formulasi, ingredient yang digunakan, serta derajat tingkat aerasinya.

Tipe gelatin yang digunakan untuk produk confectinary seperti marshmallow adalah gelatin dengan kisaran bloom strength (satuan untuk kekuatan gel) 125-275 yang memiliki viskositas medium hingga rendah atau viskositas tinggi hingga rendah. Adapun penggunaan gelatin dalam produk ini sekitar 2- 7 persen. Umumnya gelatin yang digunakan untuk produk jelly confectionary adalah gelatin tipe A. Hal ini disebabkan umumnya gelatin tipe A memiliki viskositas yang rendah.

Pada pembuatan marshmallow, pemilihan jenis dan tipe gelatin sangat bervariasi tergantung jenis marshmallow yang ingin dibuat. Misalnya untuk extruded marshmallow, jenis gelatin yang disarankan adalah gelatin dengan bloom strength dan viskositas yang tinggi. Hal ini diperlukan untuk terbentuknya produk dengan cepat dan juga pemotongan produk secara cepat oleh mesin yang berproduksi secara kontinyu. Konsentrasi gelatin yang digunakan untuk produk ini juga lebih tinggi.

Bentuk-bentuk produk yang menggunakan gelatin seperti jeli dan marshmallow ini memang sangat menarik terutama bagi anak-anak. Ditambah dengan kombinasi warnanya yang sangat menggoda hati serta sensasi yang ditimbulkan saat mengkonsumsi produk ini, maka tak dipungkiri kalau produk ini merupakan produk kegemaran anak.

Mengapa harus diwaspadai?

Untuk jenis marshmallow lainnya sebagaimana halnya produk jeli, gelatin yang disarankan memiliki viskositas sedang hingga rendah, yang umumnya disupplai oleh gelatin tipe A. Gelatin tipe A adalah gelatin yang dihasilkan dari proses pembuatan gelatin dengan cara perendaman asam atau biasa disebut dengan proses asam.

Bahan-bahan yang digunakan dalam proses asam adalah bahan-bahan yang komponen utamanya adalah tulang-tulang muda dan kulit. Karenanya bahan yang digunakan untuk proses asam ini bisa dari kulit sapi dan tulang sapi yang umurnya masih relatif muda, serta kulit babi. Sedangkan gelatin tipe B adalah gelatin yang dihasilkan dari proses basa, yang bahan bakunya adalah kulit jangat atau pun tulang sapi.

Dari keterangan diatas, gelatin tipe B relatif aman dari sumbernya karena gelatin B tidak menggunakan babi sebagai sumbernya. Tetapi sebaliknya gelatin tipe A sangat riskan dari segi sumber bahan yang digunakan. Karena gelatin babi termasuk gelatin tipe A, walaupun gelatin tipe A bisa juga bersumber dari sapi.

Selain masalah sumber, keraguan atau pun keharaman penggunaan gelatin adalah pada ketersediaan sumber bahan bakunya. Bahan baku sapi (tulang, kulit, dan kulit jangat) haruslah merupakan bahan yang diperoleh melalui pemotongan yang sesuai syariat Islam.

Sejujurnya hal ini sangat sulit untuk diperoleh, mengingat hampir sebagian besar pabrik gelatin berada di negara yang Muslim bukan mayoritas. Sehingga ketersediaan bahan-bahan baku untuk gelatin yang  seharusnya merupakan bahan sisa dari pemotongan sapi yang mengikuti tata cara berdasarkan syariat Islam sangat mustahil didapat.

Saat ini negara seperti Malaysia sudah memulai untuk memproduksi gelatin, walaupun tetap saja bahan bakunya berasal dari negara lain seperti India. Namun demikian bukan tidak mungkin ada produsen yang mau bersusah payah untuk memproduksi gelatin halal, mengingat potensi konsumen muslim yang cukup signifikan. Kita tunggu saja marshmallow berlabel halal.  halalmui.or.id

 

33 Perusahaan Singapura  Salahgunakan Sertifikat Halal

SINGAPURA -- Majelis Agama Islam Singapura (MUIS) akan menyeret 33 perusahaan dan restoran di negeri itu yang terbukti menyalahgunakan sertifikat halal dalam 5 tahun terakhir. Mereka yang terbukti bersalah, menurut laporan Berita Harian akan didenda sesuai ketentuan hukum Singapura.

Seorang dari pengusaha itu, Wee Toon Ouut, pemilik Wee Nam Kee Hainanese Chicken Rice di Jurong Point mengaku MUIS tidak berhak mengadukannya ke pengadilan. Ia beranggapan gerainya halal kerana tidak menyediakan hidangan yang mengandung daging babi. Pada 2000, Wee memang mengurus sertifikasi halal. Ia lalu memajangnya di depan restorannya. Namun sejak itu, ia tidak pernah mengurus perpanjangan izin, namun tetap memampang sertifikat itu. Ia didenda 300 dolar Singapura.

Menurut koran itu, kini semakin banyak kedai makanan halal, dengan jumlah permohonan diterima MUIS meningkat tiga kali lipat dari 336 pada 2001 menjadi 1.029 tahun lalu. Bilangan restoran halal juga meningkat tiga kali lipat dari 533 pada 2000 menjadi 1.512 tahun llalu.

Restoran lain yang didenda adalah Food Culture di Century Square di Tampines. Ia mengiklankan diri sebagai 'restoran pertama tanpa daging dan minyak babi di Tampines'. Padahal, berdasar data MUIS, restoran itu belum pernah sekalipun mengajukan sertifikasi halal.

Manajemen Food Junction Holdings, pengelola Food Culture, memberi keterangan tahun lalu pihaknya sudah mengajukan sertifikasi halal. Sebagai bukti keseriusannya menrjuni bisnis makanan halal, mereka sudah menyuntikkan modal tambahan pada Food Culture Pte Ltd hingga 400.000 dolar Singapura pada Januari lalu.

Direktur Utama Food Junction Holdings, Jonathan Lee, mempertegas pernyataannya bahwa restorannya hanya menyediakan makanan halal. Ia memiliki karyawan Muslim yang khusus mengontrol proses dan hasil olahannya.Ketua Unit Strategik Pensijilan Halal MUIS, Shahlan Hairalah menyatakan, klaim halal restoran itu adalah rekaan mereka sendiri. Namun, kata dia, menjadi tidak etis bisa mereka mengesankan kepada konsumen Muslim bahwa produknya halal, padahal sertifikat halal belum mereka peroleh.

Di Singapura, berdasar Tadbiran Akta Undang-undang Islam, adalah menjadi kesalahan memasang tanda halal atau menggunakan perkataan 'halal' jika makanan itu tidak disediakan mengikuti cara Islam. Hukumannya ialah denda hingga 10.000 dolar Singapura atau 12 bulan penjara, atau bahkan keduanya.

India Gelar Festival Pangan Halal

CHANDIGARH -- "Mereka tidak mendapatkan makanan halal segampang di Punjab. Maka, kami mencoba menyediakan daging halal di Festival Pangan Halal Lahori. Semuanya gratis bagi rekan-rekan Pakistan kami.''

Begitulah sambutan yang tertulis di sapanduk di sepanjang jalan di Chandigarh, India, selama festival pangan halal berlangsung. Hotel-hotel dan restoran di Chandigarh menyajikan menu Pakistan dalam hidangan makan siang dan malam mereka. Mulai dari nasi tanduri hingga ayam merica semua lengkap tersaji. "Di Punjab, mereka memang gampang mencari makanan halal, tapi tidak di sini. Makanya kami menyediakannya sekarang untuk mereka,'' ujar Anil K Sagar, pimpinan chef di Wah Delhi Restaurant.

Tak hanya menu Pakistan yang disajikan. Mereka juga menyiapkan menu India namun dengan bahan-bahan halal. ''Kita menyajikannya untuk memberikan 'pengalaman' menyantap hidangan India yang lezat,'' ujar Jitendra Kumar, manajer Hotel Delhi. Asal tahu saja, festival itu diselenggarakan berbarengan dengan pertandingan cricket antara India - Pakistan. tri/ndtv.com

Penulis : tri

REPUBLIKA - Jumat, 18 Maret 2005

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

 

BERITA LAINNYA