Thursday, 10 Rabiul Awwal 1444 / 06 October 2022

Transformasi Pesantren

Sabtu 22 Oct 2016 14:00 WIB

Red:

Perjalanan pesantren dari masa penjajahan hingga saat ini penuh dinamika. Sebagai institusi pendidikan agama Islam, pesantren ikut berperan merebut kemerdekaan RI dari tangan Belanda. Pada masa kemerdekaan, kontribusi pesantren pun tidak surut.

Banyak santri yang menjadi politikus, pejabat, hingga menteri. Menyambut Hari Santri Nasional pada 22 Oktober, pesantren pun terus bertransformasi untuk melahirkan santri yang siap berkontribusi pada peradaban.

Peneliti tarekat dan tradisi Islam asal Belanda, Martin van Bruinessen, mengungkapkan, berdasarkan survei Belanda 1819, institusi pendidikan keagamaan ini sudah berkembang dengan sangat pesat, terutama di pelosok Jawa. Survei itu mengungkapkan, lembaga tradisional ini sudah terdapat di Priangan, Pekalongan, Rembang, Kedu, Surabaya, Madiun, hingga Ponorogo. Memang tidak ada catatan sejarah resmi kapan pastinya pesantren di Indonesia muncul pertama kali.

Buku sejarah hanya merujuk pada Serat Chentini yang mengungkapkan bahwa lembaga pendidikan pesantren tertua adalah Pesantren Tegalsari di Ponorogo, yang didirikan pada 1724. Saat ini, lembaga tersebut sudah berdiri sebagai Pondok Modern Gontor Darussalam. Bentuk awal pesantren awalnya hanya mengajarkan ilmu agama Islam. Para santri diajari mengkaji Alquran, hadis, dan kitab kuning.

Pesantren juga membantu membentuk karakter seorang santri untuk bekal mereka saat keluar pesantren. Ilmu yang mereka pelajari di pesantren untuk bekal bersosialisasi di tengah masyarakat dan berdakwah.

Kesadaran kaum santri untuk bangkit dari penjajah datang saat seorang tokoh agam KH Hasyim Asy'ari dengan beberapa kiai lainnya mendapatkan amanah untuk mendirikan sebuah organisasi. Berawal dari sana, pembentukan organisasi Nahdlatul Ulama mulai disosialisasikan kepada kiai-kiai dan pesantren-pesantren.

Ketua PBNU Aizuddin Abdurrahman sekaligus cucu pendiri NU tersebut mengatakan, saat menyosialisasikan pembentukan NU, para kiai juga mengadakan diskusi untuk menyikapi kondisi perjuangan pada saat itu. "Mbah Kiai Hasyim silaturahim kepada kiai-kiai lain, mereka diajak tidak hanya mengurusi pesanten, tapi juga mengurusi sosial kemasayarakatan," ujar Aizuddin. Kemudian, jadilah NU sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di dunia.

Ia menerangkan, NU tidak hanya mengurusi pendidkan agama, tapi juga ikut menata dan menjaga sosial kemasyarakatan. NU menyebarkan Islam di nusantara dengan cara yang santun, perlahan-lahan, dan seimbang. Membesarnya pesantren menyadarkan tokoh nasionalis untuk merangkul santri untuk ikut melawan penjajah.

Segala bentuk perjuangan pun dilakukan, baik lewat diplomasi maupun jihad dengan bambu runcing. "Situasi pada saat itu peperangannya sangat luar biasa, perjuangan jiwa dan raga itu betul-betul," ujarnya. Usai kemerdekaan berhasil direbut, pesantren tak berhenti membangun bangsa ini. Menyesuaikan dengan dinamika masyarakat, pesantren pun melakukan pembaruan.

Tujuannya agar para santri dapat mengikuti perkembangan zaman sehingga dapat menjadi insan yang berguna dan memiliki kemampuan. Wakil Rektor Universitas Darussalam (Unida) Gontor, Hamid Fahmy Zarkasyi, mengatakan, Gontor boleh jadi menjadi cikal bakal pionir pesantren modern di Indonesia. Sejak lahir pada 1937 lalu, Gontor melahirkan para alumnus yang ikut membangun pesantren-pesantren baru dengan Gontor sebagai prototipe.

Dalam perkembangannya, ponpes memang ada perubahan kurikulum. Hamid menjelaskan, sebelumnya tidak ada pelajaran, seperti matematika, fiskia, dan biologi. Santri hanya mengenal ilmu berhitung, aljabar, dan ilmu tumbuh-tumbuhan. "Kita ikuti perkembangan ilmu pengetahuan itu diganti menjadi matematika dan biologi, itu dari sisi kurikulum," ujarnya.

Dari sisi kegiatan, Gontor memiliki pendirian bahwasanya mental bekerja itu lebih baik daripada keterampilan bekerja. Dikatakan Hamid, santri tidak diajari keterampilan-keterampilan dari berbagai macam bidang, seperti di SMK dan sekolah pertanian. Santri di Gontor diajari mental untuk belajar, bekerja, dan memimpin.

Jadi, ketika harus terjun ke dunia pertanian, santri tersebut sudah mempunyai mental untuk belajar dan bekerja. "Di Gontor tidak perlu belajar bagaimana memelihara ayam, tapi anak-anak belajar bagaimana supaya dia bisa memelihara ayam dan mengangkat pegawai yang bisa memelihara ayam," katanya menjelaskan.     rep: Fuji Eka Permana, ed: A Syalaby Ichsan

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA